Pasca pandemi Covid-19, ternyata mendorong masyarakat untuk lebih banyak memanfaatkan obat herbal untuk menepis serangan penyakit. Demikian disampaikan mahasiswa S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) , dr. Estianna Khoirunnisa MPH.
“Terlebih sejak pandemi Covid-19 melanda, obat herbal banyak dipilih orang untuk menjaga imunitas tubuh,” terang dr. Estiana sebagaimana dikutip Tribun, belum lama ini.
dr. Estiana menjelaskan, ilmu herbal adalah ilmu mengenai jamu, bahan jamu, sediaan jamu, dan produk jamu jadi yang mengandung bagian tumbuhan atau bahan lain sebagai senyawa aktifnya, juga disebut sebagai obat botani, fitomedisin, atau fitoterapi.
“Ilmu herbal yang menjadi dasar ilmu kedokteran dalam hal pengobatan sejak jaman dahulu, berangsur-angsur berkurang pemanfaatannya semenjak perkembangan pesat ilmu kedokteran barat,” katanya
Namun dalam beberapa tahun terakhir terutama semenjak mewabahnya Covid-19, herbal menjadi obat pilihan masyarakat untuk meningkatkan kondisi kesehatannya, baik secara sediaan tunggal maupun kombinasi dengan lainnya.
Terlebih menurut World Health Organization, Estiana mengatakan bahwa sebanyak 3 dari 4 orang di dunia menggunakan herbal untuk kesehatan dasarnya.
“Sebenarnya sejak awal umat manusia, herbal atau tanaman telah menjadi obat yang efektif untuk penyakit. Selain itu, banyak obat modern yang berasal dari tanaman hingga ditemukan turunan kimianya,” ujarnya Rabu (17/5/2023).
Dia menambahkan, hingga saat ini, ditemukan sebanyak 80 ribu spesies herbal yang menjadi tanaman obat bagi umat manusia dengan pemanfaatan biji, batang, daun, atau tanaman utuhnya.
Meskipun demikian, penggunaan herbal tidak mendapatkan perhatian kalangan barat karena rendahnya bukti ilmiah dalam pengobatan kontemporer.
“Sejak kejadian tingginya efek samping obat kimia dan belum adanya terapi untuk penyakit kronis tertentu membuat masyarakat dan pakar ilmiah melirik kembali obat herbal,” imbuhnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, ilmu herbal tradisional juga telah dikembangkan di Kedokteran Tiongkok sejak ribuan tahun sebelum masehi, salah satunya oleh tokoh legendaris bernama Shen Nong yang hidup pada tahun 2737-2697 SM, dengan penemuannya 365 ramuan herbal China. Tokoh lain dari China yaitu Li Shi Zhen (1528-1593 M) mencatat 1.892 jenis obat herbal dan 11.096 ramuan herbal, yang telah direview oleh Charles Darwin (1809-1882 M).
Negara lain yang juga mengembangkan obat herbal adalah India. Ia mengungkapkan, di India, omzet industry obat herbal diperkirakan mencapai 88 miliar rupee setiap tahunnya. Sementara itu di Arab terutama dimulai dari Kota Baghdad, herbal juga berkembang dengan mengadopsi praktek kedokteran dari Mesopotamia, Yunani, Roma, Persia, dan India.



