Nuansa Putra Kaban, salah satu generasi dari produsen Minyak Karo Laucih menyingkap bahan baku pembuatan obat tradisional tersebut dan manfaatnya.
Kepada Kompas, Nuansa menjelaskan bagaimana upaya melestarikan warisan leluhur secara turun temurun.
“Kalau sejarah Minyak Karo Laucih ini sebenarnya kita sudah, saya pribadi sudah keturunan ketiga dalam mengelola usaha ini. Namun dalam sejarahnya, jauh sebelum itu, nenek moyang leluhur kita sudah melakukan proses pembuatan atau produksi ini,” kata Nuansa di rumah produksinya di Jalan Jamin Ginting, KM 13,1, Kelurahan Laucih, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan beberapa waktu lalu
Saat ini, generasi ketiga mengolahnya dengan labeling, komersil dan offline/online dengan pemasaran dari Sabang hingga Merauke.
Nuansa menambahkan, mengenai bahan baku sebenarnya belum ada kendala karena kebetulan dekat dengan Tanah Karo, sebagai penghasil rempah-rempah yang digunakan.
Seperti induk kunyit, jahe merah, bunga bakung, eucaliptus, adas manis, alba, kapulaga, pala, akar angin, serai, jintan, daun sampe sempilet, bereng/ biji kecipir, daun gagatan harimau, kayu lemo, sepang (secang), bunga lawang, bawang merah, bawang putih, dan lainnya.
“Kunyit dan sirih itu antiseptik alami. Bukan hanya di pengobatan tradisional tapi juga di pengobatan modern. Pala bagus untuk melancarkan peredaran darah, bengkak. Cengkih juga digunakan membunuh kuman di gigi,” katanya.
Nuansa mengatakan, generasi ketiga pembuat minyak Karo Laucih ini memasarkan produknya secara offline dan online hingga menembus pasar dari Sabang – Merauke dengan 422 reseller.
Pada masa itu, belum dilakukan pengelolaan dengan manajemen atau sistem seperti yang dilakukan rumah produksi saat ini. Minyak berkhasiat dan menyembuhkan itu dibuat ketika ada orang yang memerlukan. Tidak dikomersilkan.
“Misalnya ada orang terluka atau butuh sesuatu untuk mengobati penyakitnya, sama bolang atau nenek kita itu hanya dikasih saja dengan cuma-cuma,” ujarnya.
Minyak yang diproduksi itu pun tidak ada merk atau label. Pengemasannya pun beragam. Mulai dari menggunakan plastik, batok kelapa. jrigen, dan lain sebagainya. Tetap tidak ada proses komersil, yang ada hanya barter.
“Barternya ketika mereka merasa bermanfaat, mereka bawa kelapa, ayam, gula sebagai gantinya. Jadi tak ada uang untuk membeli. Tidak boleh diperjual belikan,” katanya.
Sejak berdiri tahun 1999, Minyak Karo Laucih menembus pasar dari Sabang hingga Merauke dengan 422 reseller.
Namun, ketika bahan baku itu harus dibeli, dikumpulkan dalam jumlah besar, maka mau tak mau terjadi proses jual beli. Selanjutnya, proses labeling atau branding pun terjadi.
Sengaja diberi nama Laucih untuk menyesuaikan nama daerah. Ide membuat label Laucih itu muncul dari almarhum ayahnya, Tjonto Kaban dan dirinya pada tahun 1999. Seiring dengan itu dimulai proses perizinannya.
“Orang pada saat itu mencari banyak sekali, orang bertanya, oh, minyak biring Laucih, iting Laucih, yang di laucih, jadi Laucih itu jadi seperti sebuah ikon jadinya dan itu kita pakai branding yang kita gunakan,” katanya.
Sekitar 67 persen penjualan Minyak Karo Laucih dilakukan secara online, selebihnya melalui penjualan secara offline di rumah produksi dan reseller yang tersebar di banyak titik. [EB]



