Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Iran baru-baru ini mengadakan business forum yang membahas penguatan sistem kesehatan melalui kefarmasian dan alat kesehatan.
Pertemuan ini dianggap penting dalam menjajaki kolaborasi antara Indonesia dan Iran untuk mendukung sistem kesehatan Indonesia.
Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan kefarmasian dan alat kesehatan, investasi, transfer pengetahuan teknologi, dan rantai pasok di sektor kesehatan.
Melansir dari rilis, Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, menyampaikan bahwa forum ini memberikan kesempatan bagi industri kesehatan Indonesia dan Iran untuk menjalin kerja sama dan membuka peluang kemitraan baru.
Iran telah mencapai tonggak sejarah luar biasa dalam sektor kesehatan, dengan 95% kebutuhan farmasi dan alat kesehatan diproduksi di dalam negeri.
Salah satu contoh kerja sama yang telah dilakukan antara Indonesia dan Iran adalah dalam bidang alat kesehatan seperti operasi robotik (telerobotic surgery).
Kolaborasi antara ilmuwan bedah dan industri dari kedua negara ini membuktikan adanya pertukaran pengetahuan teknologi yang bermanfaat.
Rohullah Dehghani Firouzabadi, Wakil Presiden Ilmu Pengetahuan dan Ekonomi Berbasis Teknologi Iran, menambahkan bahwa salah satu bidang kerja sama yang akan dilakukan adalah sektor kesehatan dan industri obat-obatan.
Nilai obat-obatan dan alat medis secara global mencapai 500 miliar dolar saat ini. Kesehatan memegang peranan penting dalam perdagangan global, sehingga perusahaan swasta dan pemerintah berinvestasi dengan aturan-aturan perdagangan yang berlaku.
Di Iran, terdapat sekitar 10.000 perusahaan swasta yang bergerak di bidang kedokteran, termasuk farmasi dan peralatan medis.
Alat-alat modern seperti CT Scan, ventilator, peralatan penyakit jantung, dan peralatan kedokteran gigi, termasuk implan gigi, diproduksi di dalam negeri. Industri farmasi juga mencapai tingkat kemandirian 95%, termasuk dalam produksi obat anti kanker dan vaksin.
Firouzabadi berpendapat bahwa kerja sama antara Iran dan Indonesia dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara perusahaan-perusahaan yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama di bidang ini.
Produksi bersama dalam obat-obatan dan peralatan medis serta transfer pengetahuan teknologi dapat dilakukan.
Dari sisi investasi, Indonesia masih mengandalkan impor untuk bahan baku obat, sehingga ada peluang untuk meningkatkan kemandirian dalam bahan baku obat.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk melaksanakan transformasi sistem kesehatan melalui enam pilar, termasuk ketahanan di bidang farmasi dan alat kesehatan. [EB]



