Ngopi menjadi gaya hidup yang digandrungi masyarakat beberapa tahun belakangan. Tidak hanya pria, banyak wanita menjadi penikmat kopi.
Ternyata, kebiasaan ngopi memiliki dampak terhadap kondisi kesehatan yakni gangguan reproduksi bagi kaum hawa. Gangguan reproduksi yang dimaksud adalah, munculnya Mioma uteri atau sering disebut miom.
Hal itu diungkapkan oleh Dr. Fara Vitantri Diah C., Sp.OG(K) Onk dalam seminar daring yang digelar Perkumpulan Induk Organisasi Kesehatan Tradisional Indonesia (PIKTI) National PIKTI E-seminar Series 120 dengan tema Integrative Care (Acupuncture) For Uterine Fibroids (Myoma), Minggu (6/11/2022.
“Banyak faktor penyebab munculnya miom. Penyebab selain genetik ada juga karena hormon. Jadi sangat kompleks kenapa terjadi miom. Yang sering ngopi bisa cek-ceklah,” jelasnya.
Selain kopi, mengkonsumsi alkohol juga dapat memicu munculnya miom dirahim wanita. Maka dari itu, dokter Fara mengimbau agar kau wanita rutin melakukan pemeriksaan.
Terlebih apabila ada gejala-gejala yang dialami. Setiap orang pun memiliki gejala berbeda. Bahkan, ada wanita yang tidak merasakan gejala sama sekali.
“Ada gejala mengalami nyeri dan perdarahan hebat. Gejala lain periode haid yang panjang, sering buang air kecil, buang air kecil yang tidak lancar,” bebernya.
Untuk mengetahui keberadaan miom harus dilakukan pemeriksaan dalam. Apabila ditemukan miom, harus dilakukan observasi.
Langkah observasi dilakukan untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dokter untuk mengatasi miom tersebut.
“Tindakan tergantung gejala. Misal kalau sudah pendarahan, dapat dilakukan pembedahan. Pengangkatan miom saja atau angkat rahimnya, bisa dengan obat tapi efeknya berbahaya,” terang dokter Fara.
Penanganan miom juga dapat dilakukan dengan langkah pengobatan tradisional menggunakan obat herbal.
“Saya sedang belajar pengobatan herbal dengan ekstrak sambiroto. Untuk mengecilkannya. Memang sedang diteliti dan belum uji klinis. Jadi masih diuji coba. Kalau herbal efek sampingnya memang sedikit,” jelasnya.
Tindakan untuk mengobati miom tak dapat dilakukan dengan berbagai upaya. Selain tindakan medis seperti operasi dan konsumsi obat herbal, bisa juga ditangani dengan pengobatan tradisional seperti akupuntur.
Akupuntur terbukti dapat memperkecil ukuran miom dalam rahim pasien. Namun, harus juga memperhatikan apakah pasien memiliki penyakit dalam lainnya atau tidak sebagai antisipasi.
Dr. Ratna Aprilia Djojoadmodjo (Lily) mengatakan, penanganan miom dengan metode akupuntur butuh proses yang panjang. Bukan juga hal mudah.
“Masalahnya itu cukup kompleks, biasanya yang menjadi pegangan seorang akupunturist. Kemungkinan ada tiga masalah,” urai dokter Lily.
Pertama, akan di cari tau apakah seorang itu punya masalah sirkulasi. Jika ada itu menjadi masalah yang sistemik yang banyak. Jadi harus diketahui, maka itu butuh pengulangan terapi.
Kedua, bahwa mioma itu bisa terjadi karena metabolisme dan lain sebagainya. Yang mana bisa mengakibatkan penumpukan cairan.
“Hal itu harus dilihat secara holistik. Karena orang yang kulitnya berwarna akan lebih berpotensi menderita miom dari pada kulit putih. Artinya ada hubungan dengan metabolisme,” terangnya.
“Jadi satu kali seminggu cukup, biasanya kita lakukan satu atau dua bulan sekitar delapan kali. Lalu bisa dikurangi terapi (akupuntur). Lalu pasien kita minta untuk periksa kembali ke spesialis apakah ada sesuatu yang kurang baik di situ,” pungkasnya.
Miom adalah tumor jinak pada dinding rahim (uterus) seorang wanita. Tumor jinak ini dapat tumbuh besar hingga menyebabkan nyeri dan perdarahan hebat pada saat menstruasi. [bw]



