Melansir laman New Yorker, pada tanggal 11 Mei, Darurat Kesehatan Masyarakat COVID-19 yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun di Amerika Serikat akan berakhir secara resmi. Ini menandai akhir dari krisis yang telah merenggut lebih dari 1,1 juta nyawa di Amerika Serikat dan mengganggu hampir setiap aspek masyarakat Amerika. Meskipun begitu, wabah COVID-19 masih akan terus berlanjut dalam bentuk endemisitasnya, seperti halnya penyakit endemik lainnya seperti tuberkulosis. COVID-19 telah menewaskan sekitar empat puluh ribu orang di negara ini pada tahun 2023 dan berada di jalur yang akan merenggut puluhan ribu nyawa lagi pada akhirnya.
Pengumuman WHO tentang akhir pandemi ini tentu saja membawa dampak praktis, seperti pembatasan akses gratis ke tes virus corona, pembayaran tambahan saat merawat pasien COVID-19, dan lain sebagainya. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa pandemi COVID-19 telah merusak kesehatan dan politik kita. Virus ini telah menunjukkan tingkat kematian COVID-19 tertinggi di antara negara-negara kaya, dan orang Amerika cenderung percaya bahwa negara mereka sekarang lebih terpecah daripada sebelum pandemi.
Namun, kebijakan pandemi juga mengandung kilasan tentang apa yang mungkin dicapai jika kita bersatu. Pada awal pandemi, banyak orang percaya bahwa krisis yang mengancam semua orang dapat mempersatukan bangsa. Meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi, namun ada pencapaian nyata dalam membuat hidup lebih mudah bagi banyak orang. Misalnya, program Administrasi Biden yang membeli dan mendistribusikan vaksin ke apotek dan pusat kesehatan setempat telah memberikan akses vaksinasi gratis bagi orang-orang yang tidak diasuransikan. Selain itu, beberapa perubahan kebijakan lainnya telah dilakukan untuk mempermudah hidup masyarakat selama pandemi.
Dalam hal ini, walaupun pandemi COVID-19 telah berakhir, tetapi dampak dari krisis ini masih akan terus dirasakan. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari pelajaran dari pandemi COVID-19 untuk menghadapi masa depan yang lebih baik. Masyarakat perlu terus bersatu dan beradaptasi dengan perubahan kebijakan dan pandemi yang masih berlangsung. Dalam keseluruhan, kebijakan pandemi COVID-19 memberikan gambaran tentang apa yang mungkin dicapai ketika kita bersatu dan bekerja sama sebagai satu bangsa.


