Pengobatan alternatif telah lama menjadi bagian dari dunia kesehatan, menghadirkan berbagai pendekatan yang berbeda untuk merawat dan menyembuhkan. Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada fenomena pengobatan yang diusung oleh seorang tokoh bernama Ida Dayak, yang memantik heboh di kalangan masyarakat.
Melansir laman VOI, Prof. Dr. dr. Ferdiansyah, SpOT(K), yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia (PABOI), mengungkapkan keyakinannya bahwa jika pengobatan ini dapat dijadikan sebagai pengetahuan yang berbasis ilmiah, maka hal itu dapat menjadi aset berharga dalam bidang medis kita.
Kecintaan masyarakat terhadap pengobatan yang ditawarkan oleh Ida Dayak telah mencapai puncaknya, bahkan menciptakan antusiasme yang luar biasa. Namun, tingginya minat ini juga memicu kekhawatiran akan terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Sebagai tindakan pencegahan, acara pengobatan yang direncanakan oleh Kostrad di GOR Divit 1 Kostrad Cilodong, Depok pada tanggal 3 dan 4 April 2023 terpaksa dibatalkan, dan Ida Andriani, nama asli Ida Dayak, harus dievakuasi oleh petugas dari kerumunan massa yang tak terkendali. Meski begitu, Ida telah mempersiapkan diri dengan pakaian adat khas Dayak yang mencolok dengan paduan warna hitam dan kuning, siap memberikan pengobatan alternatif kepada masyarakat.
Baca juga: 3 Pengobatan Alternatif Penyakit Hipertensi: Terbukti Ampuh!
Sebelumnya, kita juga pernah dikejutkan oleh pengobatan alternatif dari seorang dukun cilik bernama Ponari di Jombang, Jawa Timur. Ada pula Ningsih Tinampi, seorang praktisi pengobatan alternatif dari Pasuruan, Jawa Timur, yang mengklaim mampu menyembuhkan COVID-19. Tak lupa, kita juga mengenal Umi Zubaidah, seorang praktisi alternatif yang terlibat dalam pengobatan mendiang Olga Syahputra. Namun, seperti yang diungkapkan oleh seorang dokter yang berpraktik di RSUD Dr. Sutomo, popularitas mereka cenderung meredup seiring berlalunya waktu.
Sebenarnya, pengobatan alternatif telah ada sejak lama. Beberapa di antaranya berhasil berkembang dan diakui sebagai cabang ilmu kedokteran yang terintegrasi, seperti akupuntur. Begitu pula dengan kemajuan dalam pengembangan jamu dan obat herbal di Indonesia, yang melalui proses uji praklinik dan uji klinik, kini mampu menjadi obat herbal yang terstandar. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak pengobatan alternatif lainnya yang belum mengalami kemajuan yang signifikan.
“Dokter spesialis akupuntur kini sudah ada. Awalnya, akupuntur dianggap sebagai pengobatan alternatif, namun melalui proses saintifikasi atau ilmiah, akupuntur terbukti bermanfaat setelah melalui penelitian yang mendalam. Kini, akupuntur telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai cabang kedokteran,” ungkapnya.
Baca juga: Sepintas Tampak Sama, Ternyata ini 7 Perbedaan Akupuntur Tiongkok dan Jepang
Dalam konteks pengobatan yang ditawarkan oleh Ida Dayak, Prof. Ferdiansyah berpendapat bahwa jika Ida atau pihak lain mampu menjalankan proses saintifikasi terhadap metode pengobatan tersebut dan mampu membuktikan efektivitasnya, hal itu akan menjadi warisan yang berharga dalam pengobatan di Indonesia. Namun, jika tidak ada bukti yang memadai, kita perlu berhati-hati. “Pengobatan alternatif tidaklah salah, tetapi harus didukung oleh bukti yang kuat. Jika manfaat pengobatan tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah, maka hal itu akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia pengobatan,” jelasnya saat diwawancarai oleh Edy Suherli dari VOI pada bulan April 2023.



