Sepintas sejarah Akupuntur di Jepang, dan Perbedaannya dengan Tiongkok

Akupunktur adalah sebuah teknik medis asal Tiongkok yang telah digunakan selama lebih dari 2000 tahun. Teknik ini melibatkan penyisipan jarum yang sangat tipis melalui kulit pada titik-titik strategis di tubuh untuk mengobati berbagai penyakit, seperti nyeri kronis, stres, gangguan pencernaan, dan ketidaksuburan.

Dalam perkembangannya, teknik akupuntur juga dipraktekkan di negara-negara Asia lain seperti Jepang. Akupunktur telah menjadi bagian penting dari praktik dan sistem medis Jepang selama lebih dari 1400 tahun. Namun, seorang biarawan-dokter Cina bernama Chiso yang membawa akupunktur bersama dengan teknik medis lainnya ke Jepang pada abad ke-6.

Selama periode ini, China jauh lebih maju dalam praktik akupunktur, namun sejak saat itu akupunktur di Jepang berkembang dengan caranya sendiri. Pemerintah Jepang menetapkan hukum pertama yang mengatur pengobatan pada tahun 701, disebut sebagai Ishitsu-rei. Ishitsu-rei mengatur dan mendefinisikan praktik medis akupunktur dan moksibusi. Artikel ini menyebutkan, “Undang-undang menyatakan bahwa tidak hanya mahasiswa akupunktur, tetapi juga mahasiswa kedokteran memiliki kewajiban untuk mempelajari titik akupunktur, menyimpulkan bahwa akupunktur dianggap sebagai pengobatan yang penting.”

Untuk waktu yang lama, ada pertukaran pengetahuan antara Jepang dan Cina. Namun, pada tahun 1635, pemerintah Jepang menutup negaranya dari dunia luar dalam periode yang dikenal sebagai masa isolasi. Masa isolasi ini berlangsung selama 200 tahun dan sangat mempengaruhi arah akupunktur di Jepang.

Misalnya, moksibusi (membakar ramuan mugwort ke titik akupuntur) menjadi populer sebagai pengobatan yang dapat dilakukan sendiri oleh orang biasa. Selama masa isolasi, Belanda adalah satu-satunya negara yang diizinkan untuk terus berdagang dengan Jepang, sehingga pengobatan Barat Belanda memiliki pengaruh pada gaya akupunktur Jepang.

Karena perbedaan dalam sejarah dan perkembangan, gaya akupunktur Jepang berbeda dari akupunktur tradisional Tiongkok. Akupunktur gaya Jepang dan Cina memiliki beberapa perbedaan dalam teknik dan filosofi pengobatan. Salah satu perbedaan utama adalah penggunaan palpasi perut sebelum perawatan. Akupunktur Jepang sangat menekankan penggunaan palpasi perut untuk menilai titik penyisipan jarum. Praktik ini berasal dari banyak ahli akupunktur buta di Jepang kuno.

BACA JUGA  Bagaimana Akupuntur Atasi Mual Seperti Dialami Selebgram Tasya?

Dalam hal metode penyisipan jarum, akupunktur Jepang menggunakan tabung pemandu jarum yang dikembangkan pada 1970-an. Sementara itu, akupunktur Cina cenderung memanipulasi jarum ketika dimasukkan ke dalam tubuh.

Ukuran jarum juga berbeda, jarum Jepang cenderung lebih kecil dan tajam daripada jarum Cina. Hal ini menyebabkan tusuk jarum Jepang lebih lembut dan dangkal dengan rasa sakit yang lebih sedikit pada pasien. Kedalaman penyisipan jarum juga berbeda, tusuk jarum Jepang lebih dangkal dibandingkan dengan tusuk jarum Cina.

Beberapa teknik tusuk jarum Jepang termasuk penggunaan jarum kontak yang dirancang untuk penggunaan khusus yang tidak menembus kulit sama sekali. Selain itu, akupunktur Jepang mengutamakan pendekatan preventif sementara akupunktur Cina lebih mengutamakan pendekatan reaktif.

Dalam hal sensasi Qi, akupunktur Cina memberikan pasien perasaan Qi yang jauh lebih jelas bergerak melalui titik-titik tertentu di tubuh mereka. Selain itu, penggunaan jamu sebagai bagian dari pengobatan akupunktur juga berbeda. Akupunktur Cina menggunakan jamu sebagai bagian dari sistem Pengobatan Tradisional Cina (TCM), sedangkan akupunktur Jepang tidak menggunakan jamu dalam pengobatan.

Terakhir, moksibusi juga merupakan perbedaan antara kedua praktik ini. Ahli akupunktur Jepang hampir selalu memasukkan moksibusi ke dalam pengobatan mereka, yaitu dengan membakar kerucut moxa di atas kulit pasien sebelum ditusuk jarum. Sementara itu, akupunktur Cina kurang memperhatikan penggunaan moksibusi dalam pengobatan.

Secara umum, gaya akupunktur Jepang lebih mengutamakan pendekatan holistik dan individual daripada pendekatan standar yang sering digunakan dalam gaya akupunktur Tiongkok. Ini membuat gaya akupunktur Jepang lebih cocok untuk pasien yang mencari pengobatan yang lebih lembut dan sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

 

TERBARU

Tertarik Jajal Terapi Kerokan atau Gua Sha? Ketahui Dulu Efek dan Cara Amannya

Sebelumnya telah dipaparkan bahwa kerokan atau gua sha jamak...

Tertarik Konsumsi Suplemen, Baca Dulu Anjuran Dokter Bedah ini

Banyak orang menganggap bahwa suplemen bisa membantu mengatasi berbagai...

Kasus Diabetes Anak Makin Marak, Apa Penyebabnya?

Indonesia memiliki masalah serius dengan meningkatnya kasus diabetes pada...

Apakah Pengobatan Tradisional Masih Digunakan? Ini Penjelasan Lembaga WHO

Pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari kesehatan global, WHO...

Lembaga ini Tekankan Pentingnya Literasi Jamu Nusantara

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar, termasuk berbagai ramuan...

Memahami Penanganan Penyembuhan Paska Stroke

Penanganan penyembuhan pasca serangan stroke sangat penting untuk dipahami....

Studi Etnomedisin Batak Karo, Temukan 4 Pengobatan Tradisional ini

Praktik etnomedisin merupakan warisan budaya tradisional yang sangat berharga...

Mengenal Holographic Meridian Scraping Therapy (HMST), Terapi Baru yang Dikembangkan dari Gua Sha atau Kerokan

Holographic Meridian Scraping Therapy (HMST) adalah teknik penyembuhan yang...

Nepal Merintis Diplomasi Herbal, Bagaimana Bisa?

Gaya hidup yang paham teknologi saat ini membuat kita...

Menyehatkan Kulit hingga Pencernaan, Mari Simak Manfaat dari Bunga yang Dapat Dimakan ini

Montana Honeylion, pendiri Warrior Peak Botanicals, memiliki minat yang...

Tertarik Jajal Terapi Kerokan atau Gua Sha? Ketahui Dulu Efek dan Cara Amannya

Sebelumnya telah dipaparkan bahwa kerokan atau gua sha jamak dilakukan ketika seseorang mengalami masuk angin. Namun, Ketua Umum PIKTI Dr. Dr. Ekawahyu Kasih, S.Pd.,...

Tertarik Konsumsi Suplemen, Baca Dulu Anjuran Dokter Bedah ini

Banyak orang menganggap bahwa suplemen bisa membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti menurunkan berat badan, merawat rambut, jerawat, kuku, dan kesehatan secara keseluruhan. Meski...

Kasus Diabetes Anak Makin Marak, Apa Penyebabnya?

Indonesia memiliki masalah serius dengan meningkatnya kasus diabetes pada anak-anak. Melansir laman BBC Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru-baru ini mengungkapkan bahwa prevalensi...

Apakah Pengobatan Tradisional Masih Digunakan? Ini Penjelasan Lembaga WHO

Pengobatan tradisional merupakan bagian penting dari kesehatan global, WHO menyampaikan bahwa diperkirakan 88% negara anggota telah menggunakan praktik seperti obat herbal, akupuntur, dan terapi...

Lembaga ini Tekankan Pentingnya Literasi Jamu Nusantara

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar, termasuk berbagai ramuan jamu dan tanaman obat. Sayangnya, pemahaman masyarakat tentang jamu masih terbatas pada Pulau Jawa. Setiap...

Memahami Penanganan Penyembuhan Paska Stroke

Penanganan penyembuhan pasca serangan stroke sangat penting untuk dipahami. Praktisi dan Dosen Tuina, Didik Waluyo, Ir. M.Med menjabarkan ihwal ini dalam PIKTI E-Seminar Seri...