Ternyata Pengobatan Tradisional Masih Jadi Pilihan Masyarakat Urban Modern

Hasil riset mendapati bahwa pengobatan tradisional masih menjadi pilihan di tengah masyarakat urban modern.

Temuan tersebut dipaparkan oleh Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Manneke Budiman, menyampaikan terdapat temuan lebih dari 50 persen masyarakat urban di 4 kampung lokasi riset di Jakarta dan Tangerang yang menjajal pengobatan tradisional / herbal.

Lebih dari itu, di suatu lokasi juga memiliki tingkat kepercayaan terhadap khasiat obat tradisional yang cukup tinggi. Hal itu hampir sebanding dengan tingkat kepercayaan pada khasiat obat modern. Mereka juga banyak menanam sendiri berbagai tanaman herbal untuk pengobatan dengan sumber pewarisan pengetahuan secara tradisi lisan dari orang tua.

Temuan tersebut, disampaikan Manneke saat menjadi narasumber dalam acara Public Lecture Series #2 yang digelar oleh Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum lama ini.

- Advertisement -

Kegiatan yang mengusung tema “Pengobatan Tradisional dan Modernitas Urban” itu menjadi rangkaian kegiatan dari seri kuliah umum yang menghadirkan narasumber dari para visiting researcher, program kolaborasi BRIN dengan para peneliti dari kalangan universitas dan industri.

Lebih lanjut, Manneke menjelaskan presentasi yang berjudul Pengobatan Tradisional dan Modernitas Urban: Memaknai Resistensi.

Temuan itu diperolehnya dari hasil riset yang telah ia lakukan selama kurang lebih dua setengah tahun.

Presentasi itu merupakan sebagian dari hasil riset Klaster Sosial-Budaya Hibah Riset Penelitian Internasional Terpadu Multi-Interdisiplin (PINTERMIDI) UI tentang dinamika rural-urban yang melibatkan peneliti dari berbagai Fakultas di UI, khususnya dari rumpun ilmu sosial-humaniora, teknologi, dan ilmu kesehatan.

Manneke menerangkan tujuan dari riset tersebut adalah untuk mengungkapkan bagaimana pengobatan tradisional dipraktikkan dalam hubungannya dengan kehadiran pengobatan modern, yang dibawa oleh urbanisasi.

BACA JUGA  Biaya Perawatan Kesehatan Melonjak, Warga Lebanon Beralih ke Pengobatan Alternatif

Selain itu juga menemukan sejauh mana pewarisan tradisi pengobatan tradisional berperan dalam kelangsungan praktik pengobatan tradisional, khususnya di kawasan kampung urban dan periurban.

“Dari hasil riset ini kita juga mencari tahu apakah praktik ini merupakan sebentuk resistensi terhadap modernitas ataukah sejenis resistensi terhadap kerentanan, di mana keduanya merupakan akibat dari proses ekspansi urban,” terang Manneke, seperti dikutip dalam laman BRIN di Jakarta.

Terkait fenomena itu, Manneke menjabarkan analisisnya bahwa semakin jauh lokasi kampung dari pusat kota, semakin kecil dampak modernitas pada komunitas kampung, seperti yang terjadi pada Kampung Markisa dan Cimone di Tangerang.

Adanya ruang hijau di Kampung Markisa dan Cimone bisa menjadi faktor tingginya kecenderungan penggunaan obat tradisional di kedua lokasi tersebut.

Selain itu, tidak ada penolakan kuat terhadap obat modern, meskipun persentase lebih besar penggunaan obat herbal di lokasi yang jauh dari pusat kota.

“Lokasi tersebut berada di margin kerentanan, sehingga memakai obat tradisional adalah cara menghadapi tantangan berbagai macam kekurangan yang pemenuhannya tidak berada dalam kendali mereka,” jabarnya.

Memahami ketika resistensi tidak berarti penolakan, keseimbangan antara konsumsi pengobatan modern dan tradisional yang diproduksi secara swadaya adalah cara untuk melestarikan tradisi, sekaligus menerima modernitas, dalam hal ini pengobatan modern.

Hal ini juga bisa berarti menjaga sedikit kendali atas hidup mereka sendiri, sambil menerima fakta keterbatasan mereka dalam menghadapi ekspansi urban.

Manneke mengatakan, “Masyarakat urban memiliki kesadaran akan kekurangannya, jadi jika susah untuk dapat obat modern maka akan memutar akal dengan menanam sendiri tanaman pengobatan herbal, untuk mengatasi masalah kesehatan”.

Namun, ketika mereka mampu untuk mengakses obat modern, mereka juga akan mengonsumsinya tanpa menyatakan penolakan.

BACA JUGA  Rapper Coolio Meninggal Gegara Sakit Jantung, Kenali Penyebab dan Resikonya

Pada kesempatan tersebut Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara memberikan pesan untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai inspirasi dalam menuangkan ide gagasan dalam riset.

Herry juga menyampaikan, agar kita melihat soal pengobatan itu bukan hanya dari apsek medis tetapi bagaimana sosial-humaniora menafsir proses pengobatan yang ada di komunitas sebagai pewarisan tradisi.

Sementara itu, Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti menyebutkan seri ke 2 kuliah umum ini adalah satu rangkaian kegiatan dari seri kuliah umum yang menghadirkan narasumber dari para visiting researcher, program kolaborasi BRIN dengan para peneliti dari kalangan universitas dan industri. [EB]

TERBARU

Menkes Budi Launching Wingko (Wolbachia Ing Kota) Semarang

Pada tanggal 30 Mei, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara...

Pakar Akupuntur Jelaskan Manfaat TCM dalam Menyembuhkan Demensia

Manfaat TCM dalam menyembuhkan demensia semakin mendapatkan perhatian sebagai...

Makanan Untuk Mengatasi Cemas Asal Jepang yang Bisa Anda Coba

Para peneliti di Osaka Metropolitan University telah melakukan penemuan...

Memahami Apa itu Integrative Medicine

Integrative Medicine, atau yang dikenal juga sebagai pengobatan integratif,...

Kemenkes Beri Penghargaan Inovator Teknologi Kesehatan Terbaik di Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini memberikan penghargaan kepada...

Termasuk Penyembuh HIV/AIDS, Berikut Beberapa Pengobatan Herbal Terkenal dari Afrika

Pengobatan herbal tradisional telah menjadi bagian penting dari budaya...

Mengenal Ventosa, Alat Kesehatan Tradisional dari Eropa yang Mirip Bekam

Terapi Ventosa, yang mirip dengan bekam, adalah salah satu...

Fitofarmaka, Memanfaatkan Kekuatan Obat Herbal untuk Kesehatan dan Kesejahteraan

Fitofarmaka, juga dikenal sebagai obat herbal, merupakan produk yang...

Cuaca Panas, Kemenkes Imbau Jemaah Haji Waspada 5 Penyakit ini

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghimbau jemaah haji Indonesia waspada dengan...

Mengenal Terapi Herbal dari Kashmir

Dikenal karena keanekaragaman hayatinya, Kashmir merupakan tempat yang kaya...

Menkes Budi Launching Wingko (Wolbachia Ing Kota) Semarang

Pada tanggal 30 Mei, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara resmi launching Wingko (Wolbachia Ing Kota) di Kota Semarang. Wolbachia merupakan salah satu inovasi dalam...

Pakar Akupuntur Jelaskan Manfaat TCM dalam Menyembuhkan Demensia

Manfaat TCM dalam menyembuhkan demensia semakin mendapatkan perhatian sebagai alternatif yang menjanjikan. Pengobatan Tradisional Cina (TCM) telah lama dikenal sebagai pendekatan holistik dalam menjaga...

Makanan Untuk Mengatasi Cemas Asal Jepang yang Bisa Anda Coba

Para peneliti di Osaka Metropolitan University telah melakukan penemuan menarik yang dapat mengubah cara kita memandang makanan dalam menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres....

Memahami Apa itu Integrative Medicine

Integrative Medicine, atau yang dikenal juga sebagai pengobatan integratif, merupakan pendekatan medis yang menggabungkan metode-metode konvensional dengan terapi komplementer dan alternatif. Konsep ini berfokus...

Kemenkes Beri Penghargaan Inovator Teknologi Kesehatan Terbaik di Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini memberikan penghargaan kepada para inovator teknologi kesehatan terbaik di Indonesia dalam acara Health Innovation Day 2023. Penghargaan dari Kemenkes...

Termasuk Penyembuh HIV/AIDS, Berikut Beberapa Pengobatan Herbal Terkenal dari Afrika

Pengobatan herbal tradisional telah menjadi bagian penting dari budaya Afrika selama ribuan tahun. Benua ini kaya akan sumber daya alam yang melimpah, termasuk berbagai jenis...