Satu kampus di Amerika Serikat mengembangkan alat kesehatan yang mengukur kesehatan mental di dunia kerja, yang diberi nama sandi One Mind.
Melansir dari Axios, adalah Columbia University Mental Health + Work Design Labs bekerja sama dengan One Mind At Work dan Ethisphere yang membuat perangkat kesehatan tersebut.
“Di mana alat kesehatan ini membuat penilaian standar agar lebih memahami dan meningkatkan cara perusahaan mendukung kesehatan mental karyawan,” kutip Axios.
Perlu diketahui, banyak perusahaan telah berupaya untuk mengimplementasikan sumber daya kesehatan mental bagi karyawan, namun adopsi manfaat ini masih tertinggal.
Studi yang pernah digelar perusahaan Investasi dan Asuransi berbasis di Amerika Serikat, The Hartford, mendapati 79% dari pengusaha mengatakan kesehatan mental telah meningkat berkat sumber daya perusahaan, dibandingkan dengan 35% pekerja.
“Mengapa One Mind penting? Sebab pengusaha yang menerapkan strategi kesehatan mental yang terbukti efektif lebih mungkin memiliki tenaga kerja yang bersemangat, bahagia, dan produktif.”
“Indeks ini merupakan respons atas keinginan pemimpin bisnis untuk pengukuran dan penilaian independen objektif,” kata Christina McCarthy, direktur eksekutif One Mind At Work, kepada Axios.
“Pada dasarnya, kami mencoba mendefinisikan seperti apa program kesehatan mental tempat kerja yang baik,” timpal pihak kampus.
One Mind bekerja dengan korporasi global seperti Aon, AXA, Bank of America, dan Prudential untuk menguji indeks tempat kerja, yang menggunakan skala 5 poin untuk menilai penawaran kesehatan mental setiap perusahaan.
Indeks ini dimaksudkan untuk menetapkan tolak ukur sehingga perusahaan dapat mengukur kemajuan mereka pada manfaat dan sumber daya, keterlibatan dan keterikatan karyawan yang berkelanjutan, dukungan kepemimpinan, dan upaya pelaporan.
Sejauh ini, pengujian awal menemukan bahwa kemajuan paling banyak terjadi pada penawaran manfaat kesehatan mental, sementara keterlibatan tenaga kerja masih kurang.
“Kurangnya keterlibatan mungkin disebabkan oleh ketakutan dan stigma seputar kesehatan mental,” kata para ahli.
Sebuah studi terbaru dari The Hartford menemukan bahwa 72% pengusaha AS percaya bahwa stigma yang terkait dengan kesehatan mental membuat pekerja enggan mencari bantuan.
Para ahli percaya bahwa standarisasi, penilaian secara teratur, dan pembicaraan terbuka tentang strategi kesehatan mental perusahaan dapat membantu mengurangi stigma.
“Untuk mengurangi stigma seputar kesehatan mental, kita harus memulainya dari dalam lingkungan perusahaan kita sendiri,” kata Dana Sultan-Rothman, kepala komunikasi korporat di Otsuka, kepada Axios.
“Kami telah melakukan perjalanan dengan memberikan perlengkapan dan sumber daya kepada karyawan kami untuk mendukung mereka, sambil bekerja sebagai organisasi untuk memupuk lingkungan di mana kami berbicara terbuka tentang kesehatan mental.”
Sejumlah perusahaan telah berupaya menyediakan sumber daya kesehatan mental bagi karyawan, namun adopsi manfaat ini masih rendah.



